Rumah Rengasdengklok

 



CASPO777 

Peristiwa Rengasdengkok bisa jadi tak berujung pada proklamasi Indonesia jika tidak dilakukan di rumah Djiauw Kie Siong. Sang pemilik rumah kelak diberi penghargaan atas kontribusinya.

Bagaimana arti penting rumah Djiaw Kie Siong dan seperti apa sejarah Peristiwa Rengasdengkok di sana?

Para pemuda berpendapat bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia harus segera dilaksanakan oleh kekuatan bangsa sendiri, bukan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang dibentuk Jepang. Sutan Syahrir, salah satu tokoh pemuda, mencoba mendesak agar Soekarno dan Mohammad Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan.


Pada Rabu, 15 Agustus 1945, sekitar pukul 20.00, para pemuda mengadakan pertemuan di belakang Laboratorium Biologi Pegangsaan Timur 17 (sekarang Universitas Indonesia Kampus Salemba, Jakarta). Mereka berusaha mencapai kesepakatan agar Soekarno dan Hatta menyatakan proklamasi, tetapi upaya pemuda dan Sutan Sjahrir belum berhasil.

Sekitar pukul 22.00, Wikana dan Darwis datang ke rumah Soekarno di Pegangsaan Timur 56 untuk mendesak proklamasi Kemerdekaan segera diaksanakan. Namun, Soekarno tetap berpendapat bahwa Jepang masih berkuasa secara de facto.

Akibat perbedaan pendapat ini, para pemuda meninggalkan kediaman Soekarno pada pukul 24.00. Kemudian berdasarkan hasil rapat larut malam di Jl Cikini 71 Jakarta, para golongan muda sepakat dengan usulan Djohar Nur untuk segera membawa Soekarno dan Hatta dari rumah mereka.

Chaerul Saleh, yang memimpin rapat, menegaskan keputusan tersebut dengan mengatakan, "Kita harus segera membawa Bung Karno dan Bung Hatta dari tangan Jepang dan melaksanakan proklamasi pada 16 Agustus 1945," seperti dikutip dari Nasionalisme Pemuda oleh Seto Galih Pratomo.

Pada dini hari sekitar pukul 03.00 WIB, para pemuda melaksanakan rencana mereka. Singgih meminta Soekarno bergabung dengan mereka.

Soekarno setuju, meminta agar Fatmawati, Guntur (yang saat itu berusia sekitar delapan bulan), serta Hatta ikut serta. Menjelang subuh (sekitar pukul 04.00 WIB) pada 16 Agustus 1945, mereka menuju Rengasdengklok.

Di hari yang sama, seharusnya diadakan pertemuan PPKI di Jakart. Soekarno dan Hatta yang dibawa ke Rengasdenglok praktis tidak hadir. Ahmad Soebardjo segera mencari kedua tokoh tersebut. Setelah bertemu dengan Yusuf Kunto dan Wikana, terjadi kesepakatan. Ahmad Soebardjo diantar ke Rengasdengklok oleh Yusuf Kunto.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hoaks Haji dan Umrah Gratis dari Pemerintah, Simak Faktanya Agar Tak Terti

Sosok Ririn, Dalang Pembunuhan Sekeluarga Terkubur di Rumah Indramayu

AS Gempur 3 Situs Nuklir Iran, Memperparah Eskalasi Konflik?