BNN Ungkap Modus WNA Edarkan Narkoba di Bali yang Menggunakan Teknologi
alphaslot88 Liputan6.com, Jakarta Kepala Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN RI), Komjen Pol Marthinus Hukom, mengungkapkan adanya modus kejahatan narkotika yang melibatkan warga negara asing (WNA) di Bali, dengan memanfaatkan teknologi canggih.
Hal ini disampaikannya saat menghadiri acara pencanangan program Desa Bersinar di Wantilan Desa Adat Kelan, Tuban, Kabupaten Badung, Selasa (15/7/2025).
Ia menjelaskan bahwa WNA yang terlibat dalam jaringan narkoba di Bali memanfaatkan teknologi seperti blockchain untuk menghindari patroli dari petugasnya.
Marthinus menuturkan, dengan teknologi tersebut, peredarannya menggunakan media sosial atau tanpa tatap muka. Kemudian, setelah adanya kesepakatan, barang tersebut ditempatkan di suatu tempat dengan kode tertentu, lalu berakhir dengan transaksi menggunakan cryptocurrency.
Dia pun mengungkapkan, ada dugaan bahwa WNA Rusia dan Ukraina jadi aktor dibalik kejahatan ini, di mana menggunakan chatbot dari aplikasi Telegram dengan format tertentu.
"Uniknya, kurirnya sudah membuat zona-zona di Bali. Misalnya di daerah Sanur, Kuta formatnya begini. Bayangkan penjahat dari luar membagi wilayah operasionalnya menjadi zona-zona seperti itu," ungkap Marthinus.
Daya Tarik
Marthinus juga mengungkap bahwa daya tarik Bali sebagai pasar narkoba semakin kuat. Hal ini terlihat dari ditemukannya laboratorium gelap (clandestine) dan kebun ganja dalam ruangan oleh BNN dan Mabes Polri.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa Indonesia saat ini menghadapi ancaman dari dua jaringan besar internasional, yaitu Golden Triangle (Myanmar, Laos, dan Thailand) dan Golden Crescent (Iran, Afghanistan, dan Pakistan). Bahkan, kartel narkoba Sinaloa dari Meksiko telah menunjukkan tanda-tanda berkembang di Bali.
Menurut Marthinus, salah satu modus yang digunakan para pelaku adalah menyewa properti seperti vila atau lahan yang kemudian dialihfungsikan sebagai markas produksi atau distribusi narkoba.
"Banyak sekali alih fungsi lahan terjadi di Bali. Saya tidak melarang itu hak setiap orang. Tapi ingat Kita beberapa kali menemukan klandestin laboratorium yang dijadikan sarang kejahatan narkoba di Bali," kata dia.
Komentar
Posting Komentar