Indonesia Darurat Penipuan Keuangan, Jeratan Love Scam hingga Lowongan Kerja Menggiurkan
ALPHA SLOT88 Liputan6.com, Jakarta - Ancaman penipuan di sektor keuangan Indonesia menjadi sorotan. Hal ini seiring kerugian yang dilaporkan masyarakat menyentuh Rp 4,6 triliun.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kerugian itu sejak Indonesia Anti-Scam Center (IASC) berdiri pada November 2024. Jadi dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, kerugian masyarakat sudah mencapai Rp 4,6 triliun dan kerugian itu melebihi prediksi awal.
Demikian disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi saat acara Kampanye Nasional Berantas Scam dan Aktivitas Keuangan Ilegal, Jakarta, Selasa, 19 Agustus 2025.
"Kita bikin studi, 3 semester atau 1,5 tahun itu angka kerugian dilaporkan sekitar Rp 2 triliun. Tapi ternyata baru 8 bulan, mungkin sekarang 10 bulan dari sejak didirikan, angka kerugian masyarakat sudah Rp 4,6 triliun rupiah, ini besar sekali," ujar Friderica, dikutip Rabu (20/8/2025).
Selain itu, IASC telah menerima 225 ribu laporan dari masyarakat sejak beroperasi. Ada 72 ribu rekening yang berhasil langsung diblokir dari jumlah tersebut. Kemudian total 359 ribu rekening teridentifikasi terlibat dalam aktivitas penipuan. Hal itu menunjukkan luasnya jaringan scammer yang memanfaatkan celah digital.
“Jumlah laporan yang diterima 225 ribu laporan, jumlah rekening yang langsung kita blokir 72 ribu,kemudian yang dilaporkan rekeningnya 359 ribu rekening,” tutur dia.
Friderica mengatakan, IASC menerima 700-800 laporan kasus penipuan setiap hari. Laporan itu jauh di atas negara lain. Contohna Singapura yang hanya mencatat 140-150 laporan harian.
Friderica menuturkan, maraknya penipuan keuangan itu juga menjadi alarm keras kalau kejahatan digital di sektor keuangan semakin sistematis dan masif. Bahkan scam tidak hanya menjerat masyarakat dengan pendidikan rendah tetapi juga menyasar kalangan profesional dan pejabat.
"Jadi, masyarakat kita sudah menggunakan digitalisasi, tetapi mereka secara digital financial literasinya masih belum cukup tinggi. Jadi itu yang harus terus kita dorong, supaya kita bagaimana membantu masyarakat ya, supaya mereka sudah menggunakan keuangan digital, jangan sampai mereka menjadi korban," ujar dia.
Modus Pelaku
Berbagai modus yang dipakai pelaku untuk menjerat korban. Hal itu mulai dari love scam dengan pendekatan emosional, lowongan kerja palsu yang menjanjikan gaji tinggi, phishing melalui aplikasi perbankan hingga penipuan di marketplace dan kripto. Celah digital ini terus dimanfaatkan scammer dengan mengadaptasi tren terbaru.
Komentar
Posting Komentar