Perkenalan Dua Prajurit TNI dan Siasat Menculik Kepala Kantor Cabang Bank
ALPHA SLOT Liputan6.com, Jakarta - Komandan Polisi Militer Kodam Jaya, Kolonel Cpm Donny Agus Priyanto, mengungkap, perkenalan antara pelaku sipil dan prajurit TNI dari kesatuan Kopassus yang terlibat dalam kasus penculikan dan pembunuhan Kacab Bank BUMN, MIP (37). Ada dari mereka yang sudah saling kenal sejak lama.
Donny menyebut, Serka N dan JP misalnya. Mereka berdua sudah saling kenal cukup lama. Keduanya tinggal di kompleks yang sama di Cileungsi, Jawa Barat. Diketahui, JP merupakan satu dari 15 tersangka dari latar belakang sipil dalam kasus ini.
"Berdasarkan hasil penyidikan yang kami laksanakan diketahui bahwa saudara Serka N dan JP ini sudah kenal lama karena kebetulan mereka ini tinggal di komplek yang sama di salah satu perumahan di wilayah Kabupaten di Jawa Barat," kata Donny saat konferensi pers, Selasa (16/9/2025).
Begitupun dengan Kopda FH. Dia saat itu merekrut EW untuk membantu menculik korban. Donny mengungkap, hubungan antara Kopda FH dan EW hanya sebatas kenal sejak 2022.
"Jadi mereka hanya sebatas kenal saja dan tidak ada, sampai dengan saat ini tidak ada indikasi yang mengarahkan bahwa yang bersangkutan ini pernah melakukan tindak pidana seperti yang dilakukan pada saat ini," ucap dia.
Bersiasat dari Rumah
Donny menjelaskan, keterlibatan keduanya bermula saat tersangka JP menemui Serka N di kediamannya pada 17 Agustus 2025. JP menawarkan pekerjaan untuk menjemput seseorang dan menyerahkannya kepada DH. JP memang berperan mencari sejumlah orang sebagai tim penculik.
Selang sehari, Serka N menghubungi Kopda FH. Keduanya sepakat bertemu JP di sebuah kafe di Jakarta Timur. Di sana, Serka N membeberkan kepada Kopda FH untuk menjemput seseorang yang nantinya akan diberi imbalan.
"Jadi, mereka sudah ada bertiga berdasarkan hasil pemeriksaan saksi. Kemudian pada saat mereka sudah berkumpul, kemudian saudara JP menjelaskan kepada Kopda F tentang pekerjaan yang akan dilakukan dan pekerjaan tersebut ada imbalannya," kata Donny saat konferensi pers, Selasa (16/9/2025).
Dua hari kemudian, 19 Agustus 2025, Serka N kembali menghubungi Kopda FH untuk menanyakan kesanggupannya. Kali ini, Kopda F menyetujuinya.
"Dan bertugas untuk mengumpulkan tim yang akan digunakan untuk menjemput korban," ucap dia.
Kopda FH kemudian meminta operasional Rp 5 juta. Permintaan itu dipenuhi, uangnya mengalir dari JP melalui Serka N. Tidak berhenti di situ, sehari kemudian, pada 20 Agustus 2025, JP kembali menyerahkan Rp 95 juta tunai kepada Serka N di sebuah bank swasta di Jakarta Timur. Uang itu segera diteruskan ke Kopda FH di sebuah kafe Rawamangun.
"Setelah Kopda FH terima uang menghubungi EW untuk bertemu di kafe," ujar Donny.
Saat Menculik Korban
Dia mengatakan EW datang bersama empat orang lain yaitu AT, JR, RA dengan mengendarai Avanza putih.
Sekitar pukul 13.45 WIB, JP memberikan informasi keberadaan korban yang saat itu berada di sebuah pusat perbelanjaan Pasar Rebo, Jakarta Timur. Mereka langsung bergerak. Avanza putih diparkir di samping mobil korban.
Saat pukul 16.30, dua orang eksekutor langsung menyergap, mendorong korban, dan memaksanya masuk ke mobil.
"Pada saat kejadian tersebut Kopda FH berada di lokasi parkir namun tidak ada di satu kendaraan yang sama," ucap dia.
Dalam perjalanan, Kopda FH berkali-kali menghubungi JP, minta kejelasan soal tim penjemput.
Bahkan, Kopda FH mengacam jika tak ada tim yang datang, korban akan diturunkan di jalan. Akhirnya, sebuah lokasi di bawah flyover Kemayoran dijadikan titik temu.
"Kemudian saudara EW menngirimkan share lokasi kepada Kopda FH dan meneruskan share lokasi tersebut kepada saudara JP sehingga mereka bertemu di bawah flyover di daerah Kemayoran," ujar dia.
Korban Dibuang
Avanza putih yang membawa korban berjumpa dengan rombongan lain yang ada di dalam mobil Fortuner hitam. Korban dipindahkan ke dalam mobil itu. Di dalamnya ada Serka N, JP, dan U.
Saat di dalam mobil Fortuner, korban yang dalam posisi terikat dan mulutnya dilakban berusaha melawan. "Dan pada saat itu Serka N ikut memegangi korban, menahan dada korban agar korban tidak berontak," ucap dia.
Dia menjelaskan, tim penjemput yang dijanjikan oleh DH tak kunjung datang, sementara kondisi korban sudah lemah. Akhirnya, di tengah perjalanan, Fortuner hitam berhenti di sebuah area persawahan. Serka N menggenggam kepala korban.
"Sementara JP itu mengangkat di bagian kaki dan korban dibuang sekitar dua meter dari mobil yang mereka kendarai. Dan setelah korban diletakkan di tempat tersebut, selanjutnya Serka N, saudara JP dan saudara D pergi meninggalkan korban persawahan tersebut," ucap dia.
Polisi Militer Kodam Jaya telah menetapkan Serka N dan Kopda FH tersangka. Keduanya kini sudah ditahan.
Komentar
Posting Komentar